Jumat, 08 Juni 2012
Poin-poin di dalam pancasila mempunyai makna yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia dan merupakan cakupan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sudah di kristalisasi. Nilai tersebut sengaja di cakup dalam Pancasila guna mengharmonisasikan beragam suku bangsa dalam bermasyarakat dan supaya dapat menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya.

Seluruh rakyat Indonesia wajib menjalankan dan melaksanakan poin-poin yang ada di dalam Pancasila karena mereka juga merupakan bagian dari objek yang diceritakan di dalam Pancasila. Pancasila merupakan lima sila yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia dan tidak dapat dipisah-pisahkan seperti mobil dan bensin. Jika salah satu dari kedua hal tersebut tidak ada (dijalankan), maka yang lainnya tidak berguna. Maka wajiblah kita sebagai generasi bangsa maupun seluruh dari kita menghormati dan mengakui adanya Pancasila.

Pancasila yang mengandung isi Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah poin yang harus kita laksanakan. Tetapi hingga sekarang bisa dikatakan tidak ada satu pun poin dari Pancasila yang berhasil kita laksanakan secara utuh dan sempurna.

  1. a.    Sila Pertama


Sila pertama yang berisi Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna bahwa Tuhan yang kita akui hanyalah satu. Diceritakan juga di dalam poin tersebut bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia yang berlainan agama, wajib menghormati sesama dan tidak ada permusuhan antar agama karena kita bukan bertindak sebagai agamais saja, tetapi agamais plus nasionalis. Nasionalis yang berpaham doktrin tertentu di dalam pemerintahan yang dijalankan oleh masyarakat tertentu. Berarti masalah agama tidak harus kita perdebatkan antar pemeluk agama. Maka dapat kita artikan bahwa semua masalah yang berkaitan dengan agama, lazim kita selesaikan guna menjalankan nilai luhur yang terdapat di dalam poin pertama dari Pancasila.

Tetapi banyak pula masalah-masalah yang berkaitan dengan agama yang terjadi di dalam Negara kita, seperti Ahmadiyah, Muhammadiyah dengan Pemerintah, dan lain sebagainya. Meskipun sebagiannya sudah dapat diselesaikan, tetapi tetap saja ada permasalahan-permasalahan yang belum diselesaikan seiring dengan zaman.

  1. b.    Sila Kedua


Sila kedua yang berisi Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung makna bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus menjunjung tinggi nilai keadilan di manapun kita berada dan siapapun kita. Tidak pandang latar belakang seseorang, tetapi bersama-sama menjunjung tinggi nilai keadilan dan menjadi manusia yang beradab sehingga tidak ada lagi kesenjangan sosial antara masyarakat yang berada dengan masyarakat yang melarat.

Dalam kesehariannya, masih juga di jumpai adanya kesenjangan antara kedua kelas tersebut. Kelas atas tidak memperdulikan masyarakat kelas bawah, begitu sebaliknya kelas bawah enggan berhubungan dengan kelas atas. Hanya di hari-hari tertentu saja hal ini bisa berubah, seperti hari raya idul fitri yang baru saja kita rasakan, dan hari-hari besar lainnya. Tapi pernahkah terfikirkan oleh kita semua apa yang terjadi di luar hari-hari besar itu? Tidak lain adalah banyaknya sikap diskriminasi yang terjadi. Di lain sisi dalam persoalan keadilan, kita akui banyak orang-orang yang melanggar hukum seperti mencuri, korupsi, kriminalitas, dan tindakan yang melawan hukum lainnya. Jika yang melakukan tindakan tersebut adalah masyarakat kelas atas, sebagian dari mereka hanya memandang sebelah mata, acuh tak acuh, bahkan bekerja sama dalam menutupi kejahatan mereka. Jika yang melakukan tindakan tersebut masyarakat kelas bawah, banyak bahkan yang kecewa. Mereka masyarakat kelas bawah yang melanggar hukum harus ditindaklanjuti, hukum di negeri ini harus ditegakkan, membangga-banggakan hukum di depan orang yang tak tahu hukum, menjadi pahlawan hukum di dalam persoalan hukum, begitulah sikap masyarakat kalangan atas khususnya politisi. Apakah itu yang namanya adil? Apakah itu yang namanya beradab? Apakah itu yang namanya saudara sebagai bangsa Indonesia?

  1. c.    Sila Ketiga


Sila ketiga yang berisi Persatuan Indonesia mengandung makna bahwa siapapun kita, apapun suku kita, apapun ras kita, agama apapun kita, daerah manapun kita, itu semua tidak menjadi permasalahan karena kita sama-sama berada di dalam wilayah Indonesia, sebagai bangsa Indonesia, sebagai satu kesatuan yang tak bisa di pisahkan, dan sebagai masyarakat yang bahu-membahu dalam melakukan sesuatu hal yang berkaitan dengan jati diri bangsa Indonesia.

Bermacam-macam partai politik bukan berarti terpecahbelah, banyaknya perbedaan pendapat bukan berarti tak bisa menyatu. Kita dilahirkan sebagai generasi bangsa Indonesia, sudah sepatutnya kita harus bersatu untuk memajukan Negara Indonesia. Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Itulah pendapat mereka-mereka yang dalam pekerjaannya maupun fikirannya selalu membawa sikap-sikap optimisme.

Kenyataannya tetap saja banyak terjadi perpecahan antar bangsa Indonesia, seperti kasus Timor Timur yang sudah terlepas dari wilayah Indonesia, kasus GAM di Aceh, kasus Papua yang ingin melepaskan diri dari wilayah Indonesia, dan sebagainya. Adanya juga perbedaan itu dijadikan alasan untuk tidak ingin menyatu. Kapankah kita bisa bersatu? Kapankah cita-cita Pancasila poin ketiga itu bisa direalisasikan dengan sempurna?

  1. d.    Sila Keempat


Sila keempat yang berisi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan mengandung makna bahwa semua rakyat Indonesia tanpa terkecuali harus sampai ke tahapan masyarakat madani. Mereka dipimpin oleh pemimpin yang adil dan bijaksana yang mengutamakan kepentingan rakyatnya dan juga tidak mengabaikan nilai-nilai demokrasi. Pemimpin yang pandai mengambil keputusan yang tepat, pemimpin yang selalu berada di depan rakyat dalam masalah apapun, pemimpin yang pandai mengayomi rakyatnya dengan bijak. Adakah sosok pemimpin seperti itu di dalam negeri ini?

 

  1. e.    Sila Kelima


Sila kelima yang berisi Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna bahwa seluruh rakyat Indonesia di segala penjuru dan di setiap lapisan masyarakat harus merasakan indahnya keadilan di negeri ini. Mereka terjaga dan sejahtera, menjadi masyarakat madani, itulah yang di impikan Pancasila. Tapi hingga saat ini terdapat kasus-kasus yang meresahkan masyarakat dan bahkan belum tersentuh hukum sama sekali seperti kasus Pembantaian massal tahun 1965 yang telah memakan korban sebanyak 1.500.000 jiwa, kasus penembakan misterius Petrus yang telah memakan korban sebanyak 1.678 jiwa, kasus dukun santet Banyuwangi yang memakan korban sebanyak puluhan jiwa, kasus Marsinah yang pelaku utamanya tidak tersentuh sementara orang lain dijadikan kambing hitam, kasus Bulukumba tahun 2003 yang terjadi karena keinginan PT. London Sumatera untuk melakukan perluasan area perkebunan mereka, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di negeri kita.

Adanya poin keadilan merupakan awal dari ketidakjelasan masyarakat Indonesia sekarang ini. Keadilan seperti gurauan belaka. Setujukah Anda jika kita sudah merasakan keadilan itu dengan sempurna? Setujukah Anda jika kita telah menjadi masyarakat madani? Setujukah Anda jika semua yang terjadi di wilayah Indonesia sudah dalam konteks adil?

Dalam kelima sila tersebut, kita ketahui bahwa tidak ada satu pun poin dalam Pancasila yang berhasil kita laksanakan secara sempurna sejak hari pertama Proklamasi hingga saat ini. Jadi bisa dikatakan bahwa penerapan Pancasila di negeri ini hanyalah sebatas teori belaka, penerapan yang mencakup tindakan hanyalah bersifat abstrak. Penjabaran di atas merupakan contoh kecil dari sekian banyak contoh yang telah terjadi di Indonesia. Banyak yang tidak dijelasi tetapi banyak juga yang bisa kita ambil pesan dari contoh tersebut.

Dimanakah sesungguhnya Pancasila itu? Jawabannya ada di dalam masing-masing diri kita, apakah kita sudah melaksanakan Pancasila dengan sempurna dan benar ataukah kita hanya acuh tak acuh dengan apa yang namanya Pancasila.

Pancasila itu adalah milik kita, milik bangsa Indonesia, tetapi dalam kenyataannya malah Negara lain yang menggunakan asas-asas Pancasila meskipun tidak mengakui Pancasila lebih bisa melaksanakan Pancasila daripada kita. Dimanakah kenyataan itu? Dimanakah kita semua? Apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa Indonesia?



[ratings]

0 komentar:

Satu Klik sangat berguna bagi kami, Klik ya Sobat.

Judul Widget 1

Jangan Lupa ya sebelumnya klik dahulu iklan berikut

Judul Widget 2

×

and

About Me

Foto Saya
Didit Puji Hariyanto
Lihat profil lengkapku