Minggu, 27 Januari 2013
Tema : Ukhuwah Menyatukan Langkah
Di bawah langit biru yang dihiasi dengan sinar matahari seolah-olah sedang menebarkan kebahagiaan pada setiap insan di sekitarnya, sekumpulan kupu-kupu yang sedang bercanda ria asyik menari-nari di sekitar dedaunan yang rindang. Seorang pemuda yang baik hati nan sopan tinggal di sana, ia tinggal bersama ibu dan kakak kandungnya, sedangkan ayahnya sedang berjuang keras untuk mencari rizki yang halal dengan cara merantau ke luar kota. Nama pemuda itu adalah Dipo, ia berumur sekitar 17 tahun dan ketika itu ia sedang duduk di kelas 2 di SMA Negeri 3 Medan.
Ia cukup aktif mengikuti kegiatan di sekolahnya, tercatat dalam keanggotaan Paskibra dan Al-Faris1). Ia tidak memiliki banyak teman, karena ia sedikit pendiam. Hari-harinya ia habisi dengan kesibukan, mulai dari tugas-tugas yang menumpuk dari Sekolahnya, rumahnya, bahkan sering mengikuti beberapa perlombaan. Ia berkeinginan untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke pulau Jawa setelah tamat dari SMAnya. Motto hidupnya adalah ‘Anak Kodok BISA menjadi seorang Raja’.
Ketika sebelum Jumat-an bagi yang Muslim, saat terdengar suara bel yang menandakan selesainya pembelajaran di sekolah, Dipo pun dengan teman-temannya berkumpul di Musholah Ad-Dien.
Dipo : (Saat melihat Fadhil di dalam Musholah) Assalamu’alaikum, (sambil mengulurkan tangannya)
Fadhil : Waalaikumsalam…(menjawab sambil mengulurkan tangannya juga)
Dipo : Belajar apa tadi dil? Kok suram mukanya?
Fadhil : Biasa dip, pelajaran Fisika, tahulah gimana gurunya.
Dipo : (pura-pura gak tahu) Emang kenapa gurunya? Sapa yang jadi korban hari ini?
Fadhil : Tadi waktu kami ujian, aku ketahuan nyontek. Terus langsung dikoyak kertas ujian aku.
Dipo : Uda dil, sabar. Mungkin Allah punya rencananya sendiri yang kita tidak tahu.
(Muncul Mukhlis dari pintu Musholah)
Mukhlis : Dip, nanti setelah sholat Jum’at, kumpulin anak-anak Al-Faris mulai dari ikhwan dan akhwatnya juga, kata pak Rais ada alumni yang mau datang…
Dipo : Oke klis.
(setelah sholat Jum’at)
Dipo pun segera mengumpulkan semua anggota Al-Faris. Semuapun duduk, ikhwan di depan, sedangkan akhwatnya di belakang. Di pojok mushola sudah tersedia layar proyektor, LCD Proyektornya diletakkan di bawah dengan beralaskan sajadah. Terlihat disamping pak Rais ada beberapa ikhwan yang belum kami kenal, di sekitaran akhwat juga ada beberapa orang yang tidak kami kenal, yang kami tahu bahwa mereka itu adalah Alumni Sekolah kami, khususnya alumni Al-Faris.
Acara pembukaan pun berlangsung, “baik anak-anak, di depan kalian sekarang sudah ada beberapa alumni, di sana (sambil menunjuk beberapa akhwat yang juga alumni) ada kak Sofi, kak Saidah, kak Maulida, dan yang lainnya sedangkan di samping bapak ada kak abbas, kak khairil, kak rahmat, dan yang lainnya”, ujar Pak Rais. Setelah itu barulah mereka satu per satu memperkenalkan dirinya dan pengalamannya, ada yang kuliah di UGM, UI, Al-Azhar Kairo, Belanda, ada yang pernah ke Amerika Serikat jadi HI, dll. Mendengar cerita para alumni, Dipo pun tergerak hatinya untuk megikuti kesuksesan mereka. Tidak hanya Dipo, Mukhlis dan Fadhil pun juga tergerak hatinya untuk melanjutkan kuliahnya di luar kota.
Ketika acaranya selesai, kami pun berbincang-bincang sedikit.
Dipo : Kak, gimana sih caranya supaya bisa kuliah seperti kakak, kuliah di tempat-tempat yang populer?
Abbas : Waktu itu kakak nulis beberapa impian di kertas, kakak hayati, kakak pahami, terus kakak berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkannya dan Alhamdulillah impian kakak tercapai, prinsip kakak adalah “Jangan Kuliah Kalau Tidak Mau Sukses”
Dipo : Oh, terus kak masalah ekonominya gimana? Mahal gak biaya kuliahnya?
Abbas : Kalau masalah biaya sih relative dek, karena biayanya disesuaikan dengan ekonomi keluarganya, kalau kakak mulai dari pertama masuk S1 hingga S2, gak pernah bayar uang kuliah alias gratis.
Dipo : Gratis?? Subhanallah…
Abbas : Iya, adek kalau pengen kuliah di tempat yang adek inginkan, jangan ragu-ragu. Sesungguhnya Allah akan menolong Hamba-Nya dan memberikan jalan keluarnya dari sisi yang tak terduga-duga.
(Perbincangannyapun masih berlangsung, hingga setelah mereka pergi, kami pun berbicara sebentar)
Dipo : Klis, enak ya mereka bisa kuliah di tempat yang popular. Aku berniat untuk kuliah di Jawa klis. Aku kalau bisa pun kuliah di UI.
Mukhlis : Iya dit, kita tunjukkan nanti. Aku juga ingin kuliah di UI atau ITB.
Fadhil : Ingat kata pak Rais, alumni Al-Faris itu sebagian besarnya pasti sukses, asalkan mereka tetap istiqamah dengan agama ini.
Ma’ruf: Iya benar dil (mengacungkan jempolnya)
Sesampai di rumah, Dipo pun ingin menyampaikan keinginannya ke orang tuanya,
Dipo : Mak, Dipo mau kuliah di Jawa, di UI mak.
Mamak : Dipo, mamak tahu apa yang Dipo inginkan, tapi ingat dengan kondisi keuangan kita, mungkin tidak cukup untuk membiayai kamu, kamu kuliahnya dekat-dekat saja, toh abang kan kuliahnya juga di sekitar sini. Lagipula di sini cukup bagus kok. .
Tapi melihat itu Dipo pun terkejut
Dipo : Hah? Mak, kalau masalah keuangan sih gak papa. Di sana banyak yang menawarkan beasiswa, tadi kata alumni, lebih banyak jumlah beasiswa daripada jumlah mahasiswa di sana. Ada juga kok mak katanya yang sampai gratis.
Mamak : Dip!! Uda kuliahnya di sini aja. Mamak dengar dari teman mamak, saudaranya kuliah di sana, katanya dia bayar puluhan juta. Mau dari mana coba?
Dipo : mungkin dia orang kaya mak, itu disesuaikan dengan ekonomi keluarganya.
Mamak : Wah ini anak! Mau jadi korek api ya? Yang membakar orang tuanya sendiri. Nanti kalau mamak mikirin itu terus, dan penyakit mamak kambuh lagi, bagaimana kalau nanti sampai mamak mennggal? Mau jadi anak durhaka ya? Uda, mamak gak mau lagi dengar cerita kalau dipo mau kuliah di jawa!
Dipo : (dengan kesal hati)(di dalam hatinya) Mungkin mamak belum tahu tentang beasiswa di sana.
(Di Musholah)
Dipo : Klis, gimana? Kalian dikasih kuliah di Jawa?
Mukhlis : Alhamdulillah di kasih, aku harus belajar keras.
Fadhil dan anak yang lainnya : kami juga di kasih dip.
Dipo : (mau bilang aku sebenarnya gak di kasih, tapi malu) Oh,
Waktu terus saja berlalu, karena tidak dapat ijin dari orang tuanya, Dipo pun merasa malas untuk belajar, toh untuk masuk ke universitas terdekat gak susah-susah amat. Hingga saat itu Dipo dan teman-temannya naik ke kelas 3. Di umumin siapa yang mendapatkan Undangan SNMPTN. Dan hampir semua dari kelas kami yang mendapatkannya.
Mukhlis : Yuk kita harus bisa sama-sama ke Jawa. Nanti kita bisa reuniannya di Jawa, hahaha,,
Dipo : Oke, kita satukan tujuan kita klis, nanti kalau uda sukses jangan lupa dengan teman-teman di sini.
(waktu pulang dari sekolah, dan sesampainya di rumah)
“Mamak sampai sekarang belum ngijinin aku kuliah di Jawa, di tanganku ini ada kertas Undangan harus dipilih jurusan dan universitasnya. Kalau bilang ke mamak sekarang, pasti gak di kasih, nantilah aku nulis Universitasnya tanpa sepengetahuan mamak, tapi nanti kalau ternyata lulus gimana? Ya sudah lah, paling kena marah, tapi kena marahnya sampai gimana yah? Mamak pernah sampai nangis untuk masalah ini. Dan waktu itu penyakitnya kambuh lagi. Tapi gimana ya?”, ujar Dipo dalam hatinya.
Isya pun tiba, setelah sholat isya, Dipo pun tiba-tiba ingin berdiskusi dengan orang tuanya.
Dipo : Mak, ini ada Undangan,SNMPTN gimana mak? Kuliahnya di mana?
Mamak : Di mana lagi, di sekitar sini aja.
Dipo : Jadi gak boleh ke Jawa ya mak?
Mamak : Wah anak ini, senang ya liat mamaknya nangis? Kalau mamak sampai meninggal gimana? Senang ya?
Dipo : (mendengar pernyataan tersebut, terasa sesak di dada, semua rasa amarah dan kesal berkumpul di dalam hati ini, mau marah tapi marah ke siapa, mau kesal tapi kesal ke siapa, mamak belum tahu tentang perkuliahan, gak mungkin mamak disalahin) Yah sudah lah, dipo akan nulis apa yang mamak inginkan, Semoga Allah memberikanku sebuah jalan keluar.
Seiring berlalunya waktu, Dipo pun menulis apa yang mamaknya inginkan, dengan berat hati kertas tersebut di kembalikan ke sekolah dengan pilihan yang kurang memuaskan. Pada suatu saat, dipo mendapatkan informasi tentang perkuliahan yang gratis bahkan diberikan uang saku.
Dipo : Mak, ini ada informasi tentang perkuliahan, ini gratis, nih buktinya (menunjuk website resminya di laptop), gimana mak?
Mamak : Nah kalau ini mamak setuju, ya sudah gak papa. Ikut aja, mana tahu lulus.
Dipo : (mendengar pernyataan tersebut, Dipo gak tahu kenapa tiba-tiba di kasih, apa mungkin karena biayanya gratis) Iya mak makasih (dengan wajah bahagia).
Akhirnya Dipo mengikuti beberapa tahap seleksi masuk di sana. dan ketika pengumuman lulus tidaknya undangan SNMPTN, kami semua dengan muka yang ketakutan membuka internet dan melihatnya.
Ma’ruf : Alhamdulillah aku lulus di ITB. Allahu Akbar!!
Mukhlis : Astaghfirullah, aku gak lulus (langsung mendung mukanya).
Fadhil : Eh, aku juga gak lulus.
Dipo : Alhamdulillah aku lulus di pilihan yang mamak inginkan.
Dipo : Uda semuanya, jangan sedih, tetap semagat. Masih ada satu jalan lagi. Ingat kita harus bisa sama-sama ke Jawa.
Mukhlis : (dengan wajah yang kusam langsung pergi tanpa kata-kata)
Waktu berjalan dengan panjang.
Dipo : Ya Allah, hamba tidak tahu sesungguhnya apa yang akan terjadi nanti, tapi hamba lulus mendapatkan universitas di sekitar sini, mudah mudahan aku masuk ke sekolah tinggi yang gratis itu. Dan masalah teman-teman aku Ya Allah, kuatkanlah mereka, pertemukanlah kami di Jawa, Tunjukkanlah Kebesaran-Mu Ya Allah. Amin.
Setelah beberapa minggu kemudian, akhirnya Dipo lulus di sekolah tinggi tersebut, dan berniat untuk meninggalkan Universitas yang sudah didapatkannya. Dia pun juga mendengar Mukhlis dan Fadhil lulus di Institut Teknologi tertentu di Jawa. Dan ketika kami dipertemukan di Musholah, kami pun berbincang-bincang sebentar.
Ma’ruf : Alhamdulillah ya Dip, kamu masuk ke sekolah tinggi itu. Dan impianmu tercapai.
Dipo : Makasih ruf, kamu juga hebat bisa lulus di situ. Kamu juga khlis, semenjak kusam muka kamu waktu itu, akhirnya Allah mempertemukan kita di Jawa. Kau dhil, selamat lah ya. Bisa ke Jawa juga.
Mukhlis : Iya dit, makasih, memang Allah akan memberikan ending yang bahagia untuk orang-orang yang tetap istiqomah di jalan-Nya. Dan hari ini buktinya. Seperti pelangi yang muncul tatkala badai telah menghampiri.
Fadhil : Hahaha, makasih, nanti kita ubah mentoring kita, kita mentoring di Jawa, hahaha
--------------------------------------------------tamat-----------------------------------------------------------
[ratings]
Di bawah langit biru yang dihiasi dengan sinar matahari seolah-olah sedang menebarkan kebahagiaan pada setiap insan di sekitarnya, sekumpulan kupu-kupu yang sedang bercanda ria asyik menari-nari di sekitar dedaunan yang rindang. Seorang pemuda yang baik hati nan sopan tinggal di sana, ia tinggal bersama ibu dan kakak kandungnya, sedangkan ayahnya sedang berjuang keras untuk mencari rizki yang halal dengan cara merantau ke luar kota. Nama pemuda itu adalah Dipo, ia berumur sekitar 17 tahun dan ketika itu ia sedang duduk di kelas 2 di SMA Negeri 3 Medan.
Ia cukup aktif mengikuti kegiatan di sekolahnya, tercatat dalam keanggotaan Paskibra dan Al-Faris1). Ia tidak memiliki banyak teman, karena ia sedikit pendiam. Hari-harinya ia habisi dengan kesibukan, mulai dari tugas-tugas yang menumpuk dari Sekolahnya, rumahnya, bahkan sering mengikuti beberapa perlombaan. Ia berkeinginan untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke pulau Jawa setelah tamat dari SMAnya. Motto hidupnya adalah ‘Anak Kodok BISA menjadi seorang Raja’.
Ketika sebelum Jumat-an bagi yang Muslim, saat terdengar suara bel yang menandakan selesainya pembelajaran di sekolah, Dipo pun dengan teman-temannya berkumpul di Musholah Ad-Dien.
Dipo : (Saat melihat Fadhil di dalam Musholah) Assalamu’alaikum, (sambil mengulurkan tangannya)
Fadhil : Waalaikumsalam…(menjawab sambil mengulurkan tangannya juga)
Dipo : Belajar apa tadi dil? Kok suram mukanya?
Fadhil : Biasa dip, pelajaran Fisika, tahulah gimana gurunya.
Dipo : (pura-pura gak tahu) Emang kenapa gurunya? Sapa yang jadi korban hari ini?
Fadhil : Tadi waktu kami ujian, aku ketahuan nyontek. Terus langsung dikoyak kertas ujian aku.
Dipo : Uda dil, sabar. Mungkin Allah punya rencananya sendiri yang kita tidak tahu.
(Muncul Mukhlis dari pintu Musholah)
Mukhlis : Dip, nanti setelah sholat Jum’at, kumpulin anak-anak Al-Faris mulai dari ikhwan dan akhwatnya juga, kata pak Rais ada alumni yang mau datang…
Dipo : Oke klis.
(setelah sholat Jum’at)
Dipo pun segera mengumpulkan semua anggota Al-Faris. Semuapun duduk, ikhwan di depan, sedangkan akhwatnya di belakang. Di pojok mushola sudah tersedia layar proyektor, LCD Proyektornya diletakkan di bawah dengan beralaskan sajadah. Terlihat disamping pak Rais ada beberapa ikhwan yang belum kami kenal, di sekitaran akhwat juga ada beberapa orang yang tidak kami kenal, yang kami tahu bahwa mereka itu adalah Alumni Sekolah kami, khususnya alumni Al-Faris.
Acara pembukaan pun berlangsung, “baik anak-anak, di depan kalian sekarang sudah ada beberapa alumni, di sana (sambil menunjuk beberapa akhwat yang juga alumni) ada kak Sofi, kak Saidah, kak Maulida, dan yang lainnya sedangkan di samping bapak ada kak abbas, kak khairil, kak rahmat, dan yang lainnya”, ujar Pak Rais. Setelah itu barulah mereka satu per satu memperkenalkan dirinya dan pengalamannya, ada yang kuliah di UGM, UI, Al-Azhar Kairo, Belanda, ada yang pernah ke Amerika Serikat jadi HI, dll. Mendengar cerita para alumni, Dipo pun tergerak hatinya untuk megikuti kesuksesan mereka. Tidak hanya Dipo, Mukhlis dan Fadhil pun juga tergerak hatinya untuk melanjutkan kuliahnya di luar kota.
Ketika acaranya selesai, kami pun berbincang-bincang sedikit.
Dipo : Kak, gimana sih caranya supaya bisa kuliah seperti kakak, kuliah di tempat-tempat yang populer?
Abbas : Waktu itu kakak nulis beberapa impian di kertas, kakak hayati, kakak pahami, terus kakak berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkannya dan Alhamdulillah impian kakak tercapai, prinsip kakak adalah “Jangan Kuliah Kalau Tidak Mau Sukses”
Dipo : Oh, terus kak masalah ekonominya gimana? Mahal gak biaya kuliahnya?
Abbas : Kalau masalah biaya sih relative dek, karena biayanya disesuaikan dengan ekonomi keluarganya, kalau kakak mulai dari pertama masuk S1 hingga S2, gak pernah bayar uang kuliah alias gratis.
Dipo : Gratis?? Subhanallah…
Abbas : Iya, adek kalau pengen kuliah di tempat yang adek inginkan, jangan ragu-ragu. Sesungguhnya Allah akan menolong Hamba-Nya dan memberikan jalan keluarnya dari sisi yang tak terduga-duga.
(Perbincangannyapun masih berlangsung, hingga setelah mereka pergi, kami pun berbicara sebentar)
Dipo : Klis, enak ya mereka bisa kuliah di tempat yang popular. Aku berniat untuk kuliah di Jawa klis. Aku kalau bisa pun kuliah di UI.
Mukhlis : Iya dit, kita tunjukkan nanti. Aku juga ingin kuliah di UI atau ITB.
Fadhil : Ingat kata pak Rais, alumni Al-Faris itu sebagian besarnya pasti sukses, asalkan mereka tetap istiqamah dengan agama ini.
Ma’ruf: Iya benar dil (mengacungkan jempolnya)
Sesampai di rumah, Dipo pun ingin menyampaikan keinginannya ke orang tuanya,
Dipo : Mak, Dipo mau kuliah di Jawa, di UI mak.
Mamak : Dipo, mamak tahu apa yang Dipo inginkan, tapi ingat dengan kondisi keuangan kita, mungkin tidak cukup untuk membiayai kamu, kamu kuliahnya dekat-dekat saja, toh abang kan kuliahnya juga di sekitar sini. Lagipula di sini cukup bagus kok. .
Tapi melihat itu Dipo pun terkejut
Dipo : Hah? Mak, kalau masalah keuangan sih gak papa. Di sana banyak yang menawarkan beasiswa, tadi kata alumni, lebih banyak jumlah beasiswa daripada jumlah mahasiswa di sana. Ada juga kok mak katanya yang sampai gratis.
Mamak : Dip!! Uda kuliahnya di sini aja. Mamak dengar dari teman mamak, saudaranya kuliah di sana, katanya dia bayar puluhan juta. Mau dari mana coba?
Dipo : mungkin dia orang kaya mak, itu disesuaikan dengan ekonomi keluarganya.
Mamak : Wah ini anak! Mau jadi korek api ya? Yang membakar orang tuanya sendiri. Nanti kalau mamak mikirin itu terus, dan penyakit mamak kambuh lagi, bagaimana kalau nanti sampai mamak mennggal? Mau jadi anak durhaka ya? Uda, mamak gak mau lagi dengar cerita kalau dipo mau kuliah di jawa!
Dipo : (dengan kesal hati)(di dalam hatinya) Mungkin mamak belum tahu tentang beasiswa di sana.
(Di Musholah)
Dipo : Klis, gimana? Kalian dikasih kuliah di Jawa?
Mukhlis : Alhamdulillah di kasih, aku harus belajar keras.
Fadhil dan anak yang lainnya : kami juga di kasih dip.
Dipo : (mau bilang aku sebenarnya gak di kasih, tapi malu) Oh,
Waktu terus saja berlalu, karena tidak dapat ijin dari orang tuanya, Dipo pun merasa malas untuk belajar, toh untuk masuk ke universitas terdekat gak susah-susah amat. Hingga saat itu Dipo dan teman-temannya naik ke kelas 3. Di umumin siapa yang mendapatkan Undangan SNMPTN. Dan hampir semua dari kelas kami yang mendapatkannya.
Mukhlis : Yuk kita harus bisa sama-sama ke Jawa. Nanti kita bisa reuniannya di Jawa, hahaha,,
Dipo : Oke, kita satukan tujuan kita klis, nanti kalau uda sukses jangan lupa dengan teman-teman di sini.
(waktu pulang dari sekolah, dan sesampainya di rumah)
“Mamak sampai sekarang belum ngijinin aku kuliah di Jawa, di tanganku ini ada kertas Undangan harus dipilih jurusan dan universitasnya. Kalau bilang ke mamak sekarang, pasti gak di kasih, nantilah aku nulis Universitasnya tanpa sepengetahuan mamak, tapi nanti kalau ternyata lulus gimana? Ya sudah lah, paling kena marah, tapi kena marahnya sampai gimana yah? Mamak pernah sampai nangis untuk masalah ini. Dan waktu itu penyakitnya kambuh lagi. Tapi gimana ya?”, ujar Dipo dalam hatinya.
Isya pun tiba, setelah sholat isya, Dipo pun tiba-tiba ingin berdiskusi dengan orang tuanya.
Dipo : Mak, ini ada Undangan,SNMPTN gimana mak? Kuliahnya di mana?
Mamak : Di mana lagi, di sekitar sini aja.
Dipo : Jadi gak boleh ke Jawa ya mak?
Mamak : Wah anak ini, senang ya liat mamaknya nangis? Kalau mamak sampai meninggal gimana? Senang ya?
Dipo : (mendengar pernyataan tersebut, terasa sesak di dada, semua rasa amarah dan kesal berkumpul di dalam hati ini, mau marah tapi marah ke siapa, mau kesal tapi kesal ke siapa, mamak belum tahu tentang perkuliahan, gak mungkin mamak disalahin) Yah sudah lah, dipo akan nulis apa yang mamak inginkan, Semoga Allah memberikanku sebuah jalan keluar.
Seiring berlalunya waktu, Dipo pun menulis apa yang mamaknya inginkan, dengan berat hati kertas tersebut di kembalikan ke sekolah dengan pilihan yang kurang memuaskan. Pada suatu saat, dipo mendapatkan informasi tentang perkuliahan yang gratis bahkan diberikan uang saku.
Dipo : Mak, ini ada informasi tentang perkuliahan, ini gratis, nih buktinya (menunjuk website resminya di laptop), gimana mak?
Mamak : Nah kalau ini mamak setuju, ya sudah gak papa. Ikut aja, mana tahu lulus.
Dipo : (mendengar pernyataan tersebut, Dipo gak tahu kenapa tiba-tiba di kasih, apa mungkin karena biayanya gratis) Iya mak makasih (dengan wajah bahagia).
Akhirnya Dipo mengikuti beberapa tahap seleksi masuk di sana. dan ketika pengumuman lulus tidaknya undangan SNMPTN, kami semua dengan muka yang ketakutan membuka internet dan melihatnya.
Ma’ruf : Alhamdulillah aku lulus di ITB. Allahu Akbar!!
Mukhlis : Astaghfirullah, aku gak lulus (langsung mendung mukanya).
Fadhil : Eh, aku juga gak lulus.
Dipo : Alhamdulillah aku lulus di pilihan yang mamak inginkan.
Dipo : Uda semuanya, jangan sedih, tetap semagat. Masih ada satu jalan lagi. Ingat kita harus bisa sama-sama ke Jawa.
Mukhlis : (dengan wajah yang kusam langsung pergi tanpa kata-kata)
Waktu berjalan dengan panjang.
Dipo : Ya Allah, hamba tidak tahu sesungguhnya apa yang akan terjadi nanti, tapi hamba lulus mendapatkan universitas di sekitar sini, mudah mudahan aku masuk ke sekolah tinggi yang gratis itu. Dan masalah teman-teman aku Ya Allah, kuatkanlah mereka, pertemukanlah kami di Jawa, Tunjukkanlah Kebesaran-Mu Ya Allah. Amin.
Setelah beberapa minggu kemudian, akhirnya Dipo lulus di sekolah tinggi tersebut, dan berniat untuk meninggalkan Universitas yang sudah didapatkannya. Dia pun juga mendengar Mukhlis dan Fadhil lulus di Institut Teknologi tertentu di Jawa. Dan ketika kami dipertemukan di Musholah, kami pun berbincang-bincang sebentar.
Ma’ruf : Alhamdulillah ya Dip, kamu masuk ke sekolah tinggi itu. Dan impianmu tercapai.
Dipo : Makasih ruf, kamu juga hebat bisa lulus di situ. Kamu juga khlis, semenjak kusam muka kamu waktu itu, akhirnya Allah mempertemukan kita di Jawa. Kau dhil, selamat lah ya. Bisa ke Jawa juga.
Mukhlis : Iya dit, makasih, memang Allah akan memberikan ending yang bahagia untuk orang-orang yang tetap istiqomah di jalan-Nya. Dan hari ini buktinya. Seperti pelangi yang muncul tatkala badai telah menghampiri.
Fadhil : Hahaha, makasih, nanti kita ubah mentoring kita, kita mentoring di Jawa, hahaha
--------------------------------------------------tamat-----------------------------------------------------------
[ratings]
Label:
Pengalaman-ku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Satu Klik sangat berguna bagi kami, Klik ya Sobat.

0 komentar:
Posting Komentar