Senin, 15 Juli 2013
Selasa malam, ana bersama teman-teman seangkatan berencana buka puasa dan tarawih di Mesjid Istiqlal. Mungkin karena ada statement ‘kalau puasa Ramadhan di Jakarta nggak nyobain ke Mesjid Istiqlal kurang lengkap rasanya’. Memang meski tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu, ya apa salahnya di coba, buat nambah-nambah wawasan dan pengalaman. ^_^

Allah masih mengizinkan ana untuk bersama teman-teman pergi ke Mesjid Istiqlal. Ternyata Subhanallah Mesjid Istiqlal bila dilihat di malam hari luar biasa indahnya. Dulu ana pernah ke Mesjid Istiqlal ketika baru-baru datang ke Jakarta. Tapi sayangnya mesjidnya lagi dalam pembangunan, jadinya gak bisa melihat Indahnya mesjid Istiqlal. Berbagi kisah nih sahabat GIPWA yang dirahmati Allah. Ternyata Allah telah memperlihatkan Rahmat-Nya, mengizinkan ana untuk mendapatkan atau setidaknya mengingatkan kembali apa yang telah hampir hilang dari dalam hati. Alhamdulillah kami sampai ke Mesjid Istiqlal dengan selamat dan dalam naungan-Nya. Sempat terkecoh dengan kondisi di Istiqlal, dikira ta’jil buka puasanya itu ada di lantai 2 dimana kami telah siap menantikan berkumandangnya adzan Maghrib di sana. ternyata ada kabar dari teman ana untuk ke lantai bawah untuk ta’jil. Mau tidak mau ya langsung menutup Kitab Al-Qur’an yang sedang ana baca, kemudian meletakkannya di tas, langsung deh ke lantai bawah.

Allah masih mengizinkan ana untuk bersama-sama ta’jil di Mesjid Istiqlal, berjumpa dengan masyarakat sekitar yang katanya berjumlah lebih dari 3000 orang, dan menyantap hidangan bersama dengan penuh Kerahmatan-Nya. Setelah itu kami sholat Maghrib seperti biasanya. Dilanjutkan dengan Pembacaan Ayat-ayat suci Al-Quran oleh Qori Internasional, meskipun tahun 1900-an sih. Pantas lagu yang dibawakan Qori tersebut ana sedikit nggak paham sih (mungkin ana kurang belajar). ^_^

Dilanjutkan dengan ceramah, kemudian sholat tarawih. Ternyata hal yang baru ana tau di mesjid Istiqlal itu sholat tarawihnya ada 2 gelombang. Yaitu gelombang pertama sholat tarawih 11 rakaat. Setelah selesai witir barulah dilanjutkan gelombang kedua untuk 23 rakaat hingga witir. Pantas saja ketika itu Imam Tarawihnya ada 2 orang.

Setelah selesainya tarawih, kami pun berpindah tujuan untuk pulang :). Tapi ditengah perjalanan pulang, Allah lagi-lagi memberikan pengajaran pada kami semua. Hal itu sempat membuat ana merasa malu dengan semangat dakwah yang masih kecil ini. Di tengah jalan kami melihat seorang kakek tua yang buta, kakek tersebut juga baru selesai tarawih 11 rakaat di Mesjid Istiqlal. Lalu salah seorang teman ana mengantarkannya ke halte Busway. Dan kakek tersebut ternyata mau naik busway mau pulang ke rumahnya. Nah peristiwa tersebut membuat ana sadar bahwa perlindungan Allah itu dekat, Allah lah yang menjaga kita, yakin kepada Allah jangan tanggung-tanggung.
Jadilah Muslim Tangguh dan Janganlah jadi Muslim yang Tanggung.
Bagaimana mungkin seorang kakek yang tua dan buta tidak merasa ragu-ragu bahkan ia merasa yakin dan percaya diri dalam setiap langkah perjalanannya. Menjadikan semua cobaan diubah menjadi sebuah Rahmat. Dan lebih-lebih semangat dalam beribadahnya meski segala rintangan harus dihadapi. Nah itu adalah kisah seorang Kakek yang tangguh dalam beribadah dan menuntut ilmu. Bagaimana dengan kita yang sehat bugar dan gagah ini masih saja melalaikan Rahmat Allah dan selalu tidak bersemangat dalam jalan Dakwah-Nya?

[ratings]

0 komentar:

Satu Klik sangat berguna bagi kami, Klik ya Sobat.

Judul Widget 1

Jangan Lupa ya sebelumnya klik dahulu iklan berikut

Judul Widget 2

×

and

About Me

Foto Saya
Didit Puji Hariyanto
Lihat profil lengkapku