Jumat, 19 April 2013
Kemunduran umat Islam yang dirasakan sekarang ini salah satu penyebabnya karena kesatuan dan persatuan umat yang rapuh. Alih-alih senergi dalam satu visi kebangkitan, umat islam justru kini merasa betah dengan kondisi terpolarisasi. Rasa cinta kepada sesame Muslim nampaknya semakin menipis. Tradisi silaturahim nampaknya semakin menjadi barang langsung. Umat Islam terjebak dengan kepentingan pragmatis individual dan golongan.
Hati kaum Muslimin hari ini Nampak gersang dan meranggas karena telah terjebak ikatan-ikatan primordialisme pragmatisdan melepaskan ikatan akidah. Perbedaan partai dan semua jenis organisasi telah memecah belah umat Islam. Umat Islam yang secara normative sebagai uamt terbaik yang dilahirkan di dunia dan secara historis telah terbukti, kini secara empiris justru sebaliknya. Umat Islam telah mengalami disorientasi akut: sekuler dan pragmatis. Kekalahan kaum Muslimin dalam perang Uhud seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk tidak terulang kembali.
Putusnyaa tali silaturahim menjadi awal malapetaka kehancuran uamt Islam, karena daya rekat umat tak lagi ada. Penyatuan Muhajirin dan Anshar oleh Rasulallah sesungguhnya telah menjadi tonggak sejarah persatuan umat Islam dengan menghidupkan budaya silaturahim dan saling menjalin tali persaudaraan.
Semangat keimanan Rasulallah dalam menyebarkan Islam ditopang kuat oleh bingkai cinta kasih dan penuh pengharapan. Sebab, ketika agama telah tercerabut dari akar cinta dan kasih sayang, maka ahnya akan menjadi sekumpulan tata ritual, aturan, dan hukum semata, tanpa memiliki ruh, kehidupan dan kekuatan di dalamnya.
Jika kita hendak berkaca pada keteladanan Rasulallah dalam upaya memajukan Islam hari ini, hendaknyalah kita menopang akal, ilmu, dan hati dengan energy cinta dan kasih sayang. Dakwah sebagai sebuah kewajiban setiap individu Muslim pada hakekatnya adalah mengajak dan menyadarkan manusia untuk memeluk Islam sebagai agama terakhir dan penyempurna agama-agama sebelumnya. Itulah kenapa semua Nabi diutus untuk menyeru kepada agama tauhid ini dengan pendekatan kecintaan kepada manusia, tanpa kekerasan dan tanpa paksaan.
Sumber :
al-Qalam No.9 2013
[ratings]
Hati kaum Muslimin hari ini Nampak gersang dan meranggas karena telah terjebak ikatan-ikatan primordialisme pragmatisdan melepaskan ikatan akidah. Perbedaan partai dan semua jenis organisasi telah memecah belah umat Islam. Umat Islam yang secara normative sebagai uamt terbaik yang dilahirkan di dunia dan secara historis telah terbukti, kini secara empiris justru sebaliknya. Umat Islam telah mengalami disorientasi akut: sekuler dan pragmatis. Kekalahan kaum Muslimin dalam perang Uhud seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk tidak terulang kembali.
Pemikir besar Muslim, Dr. Muhammad Iqbal dalam Rawa’I Iqbal Rawa’I Iqbal yang ditulis oleh An Nadawy mengatakan, “Wahai pewaris agama tauhid, pada hari ini engkau telah berubah menjadi seperti semua manusia yang tidak memiliki ruh dan tidak bisa menarik hati. Sungguh, banyak kaum Muslimin yang telah kehilangan rasa cinta yang tulus. Darah kehidupan telah mongering pada diri mereka, sehingga mereka menjadi kerangka tulang yang tidak memiliki ruh dan darah di dalamnya. Barisan mereka semu belaka. Hati mereka selalu gelisah. Sujud yang mereka lakukan tidak nikmat. Semua itu dikarenakan hati yang kosong dari rasa kasih sayang.”
Semangat keimanan Rasulallah dalam menyebarkan Islam ditopang kuat oleh bingkai cinta kasih dan penuh pengharapan. Sebab, ketika agama telah tercerabut dari akar cinta dan kasih sayang, maka ahnya akan menjadi sekumpulan tata ritual, aturan, dan hukum semata, tanpa memiliki ruh, kehidupan dan kekuatan di dalamnya.
Jika kita hendak berkaca pada keteladanan Rasulallah dalam upaya memajukan Islam hari ini, hendaknyalah kita menopang akal, ilmu, dan hati dengan energy cinta dan kasih sayang. Dakwah sebagai sebuah kewajiban setiap individu Muslim pada hakekatnya adalah mengajak dan menyadarkan manusia untuk memeluk Islam sebagai agama terakhir dan penyempurna agama-agama sebelumnya. Itulah kenapa semua Nabi diutus untuk menyeru kepada agama tauhid ini dengan pendekatan kecintaan kepada manusia, tanpa kekerasan dan tanpa paksaan.
Sumber :
al-Qalam No.9 2013
[ratings]
Label:
Islam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Satu Klik sangat berguna bagi kami, Klik ya Sobat.

0 komentar:
Posting Komentar